Aneka Info

  1. Mencetak Barcode dengan printer biasa
  2. Mengenal beberapa tipe Barcode


1. Mencetak Barcode dengan printer biasa

Banyak manfaat bisa kita dapatkan dari penggunaan Barcode seperti antara lain :

  • Mempercepat pemasukan data.
  • Terhindar dari kesalahan pengetikan data.
  • Tidak lagi perlu menempelkan label harga.

Namun tidak semua barang telah mempunyai Barcode pada kemasannya sehingga jika kita bermaksud menambahkan Barcode pada barang-barang tersebut agar dapat dipindai dengan sistem POS kita maka kita perlu membuatkan Barcode sendiri untuk barang-barang itu.

Untuk membuat / mencetak Barcode biasanya dengan menggunakan Printer Barcode yaitu printer khusus untuk mencetak Barcode (umumnya jenis Thermal Printer), dimana untuk printer tersebut diperlukan kertas label khusus. Printer jenis ini harganya cukup mahal. Untuk lebih ekonomis kita bisa juga menggunakan printer biasa seperti Printer Deskjet atau untuk hasil yang lebih baik menggunakan Printer Laser, dan menggunakan kertas label biasa atau kertas biasa.

Untuk tipe Barcode tertentu seperti : EAN-13, EAN-8, UPC-A, UPC-E, QR diperlukan software khusus untuk mencetaknya ke printer biasa. Namun beberapa jenis Barcode seperti Code 39 dan Code 128 tidak perlu menggunakan software khusus untuk mencetaknya ke printer biasa. Cukup dengan menginstall Font untuk Barcode tersebut, kemudian dengan menggunakan software seperti Wordpad, Microsoft Word atau Microsoft Paint, kita tinggal mengetikkan kode Barcode yang ingin kita cetak, kemudian mencetaknya ke printer. Mudah sekali ! Untuk Barcode tipe Code 39, pengetikan kode barcode harus diawali dan diakhiri dengan karakter khusus (*), misal untuk mencetak kode ADMINKO kita mengetiknya *ADMINKO*.

Software maupun Font untuk mencetak Barcode tersebut dapat kita peroleh di internet, ada yang Freeware (Gratis) ada pula yang berbayar.

 

2. Mengenal beberapa tipe Barcode

Terdapat lebih dari 50 macam tipe Barcode, bidang ritel, pustaka, manufaktur dan transportasi adalah yang paling banyak menggunakan Barcode. Di bidang ritel di Indonesia, tipe Barcode yang umum digunakan adalah EAN-13. Berikut ini adalah beberapa tipe Barcode yang sering kita jumpai.

EAN-13

EAN-13 (European Article Number) adalah tipe barcode linear untuk data hanya numeric (angka). Panjang datanya tetap yaitu 13 digit, dengan 3 digit pertama adalah Kode Negara (899 adalah Kode Negara Indonesia), 6 digit berikutnya adalah Kode Perusahaan, 3 digit selanjutnya adalah Kode Produk dan satu digit terakhirnya sebagai Cek Digit.

Cara menghitung Cek Digit adalah sbb : Ke-12 digit data dikalikan dengan 1 dan 3 secara bergantian dimulai dari digit paling kiri. Hasil perkalian tersebut dijumlahkan kemudian dibagi dengan 10. Jika sisa pembagian (modulo) lebih besar dari 0, kurangkan 10 dengan sisa pembagian tersebut, hasilnya adalah Cek Digit. Jika sisa pembagiannya 0 maka Cek Digitnya adalah 0.

Untuk contoh Barcode diatas, jumlah hasil perkaliannya adalah sbb : 8 + 27 + 9 + 3 + 2 + 9 + 4 + 15 + 6 + 21 + 8 + 27 = 139. Hasil tersebut (139) dibagi dengan 10 menghasilkan sisa 9, maka Cek Digit = 10 - 9 = 1.

Barcode pada hampir semua barang produk lokal adalah tipe EAN13 ini. Jika kita bermaksud menggunakan Barcode tipe EAN13 ini untuk produk kita yang akan dipasarkan secara luas, maka terlebih dahulu kita harus mendaftarkan kode Barcode tersebut ke organisasi yang khusus mengurus penomoran Barcode di Indonesia, hal ini dimaksudkan agar Barcode kita tidak sama dengan Barcode perusahaan lain atau Barcode kita tidak digunakan oleh perusahaan lain. Namun jika Barcode tersebut hanya untuk digunakan di toko kita saja, maka kita tidak perlu mendaftarkan Barcode tersebut dan kita bebas memberi nomor untuk Kode Negara, Kode Perusahaan dan Kode Produknya asalkan tidak sama dengan Barcode pada produk lain dalam sistem POS kita.

Code 39

Barcode tipe Code 39 juga merupakan barcode linear, tetapi dengan panjang data yang variabel. Data yang dapat dikodekan adalah alphanumeric yaitu 26 karakter huruf besar (A s/d Z), 10 karakter angka (0 s/d 9) dan 7 karakter khusus (Space, $, %, +, -, ., / ). Barcode selalu diawali dan diakhiri dengan karakter khusus '*', alat pemindai menggunakan karakter tersebut untuk mengetahui kapan untuk memulai dan mengakhiri membaca Barcode.

Setiap karakter data dikodekan menjadi 5 elemen Garis dengan 4 elemen Space diantaranya. 3 dari 9 elemen tersebut harus berupa elemen ukuran lebar dan 6 sisanya berupa elemen ukuran sempit. Karena cara pengkodean inilah tipe Barcode ini kadang disebut juga tipe Code 3 of 9. Ciri khas Barcode tipe ini adalah total Garisnya adalah kelipatan 5 dan lebar Garis maupun Space hanya ada 2 ukuran yaitu Garis / Space lebar dan Garis / Space sempit. Perbandingan elemen sempit dan lebar adalah 1:2 atau 1:3.

Tipe Barcode Code 39 banyak digunakan pada produk sparepart mobil / motor asli (Genuine) seperti sparepart Mitsubishi dan Suzuki. Karena pengkodeannya bersifat discreate, yaitu setiap karakter dikodekan tersendiri dan tidak ada hubungannya dengan karakter lainnya, Barcode Code 39 dapat dibuat sebagai Font sehingga mudah untuk dicetak menggunakan printer biasa. Terdapat juga tipe Extended Code 39 dimana dapat mengkodekan semua karakter ASCII, pada sistem ini karakter diluar Code 39 dikodekan dengan menggabungkan 2 karakter Code 39, hal ini menyebabkan Barcode yang dihasilkan menjadi sangat panjang.

Code 128

Seperti halnya Code 39, Barcode Code 128 juga panjang datanya variabel, tetapi dapat mengkodekan seluruh 128 karakter ASCII. Barcode selalu diawali dengan Start karakter dan diakhiri dengan Cek karakter dan Stop karakter.

Setiap karakter data dikodekan menjadi Garis dan Space berselangseling yaitu 3 garis dan 3 space, elemen pertama berupa Garis dan elemen terakhir berupa Space. Untuk Stop karakter, elemen terakhir ditambah 1 Garis. Lebar Garis atau Space bisa 1, 2, 3 atau 4 kali lebar elemen terkecil. Jadi pada Code 128 lebar Garis dan Spacenya bisa 4 macam ukuran, tidak seperti Code 39 yang hanya 2 ukuran yaitu lebar atau sempit saja.

Barcode Code 128 adalah Barcode dengan kepadatan yang sangat tinggi, bandingkan contoh Barcode Code 39 dan Code 128 diatas, dengan huruf yang lebih banyak, panjang Barcode Code 128 lebih pendek. Seperti halnya Code 39 Barcode tipe ini sering dibuat sebagai Font, namun karena adanya Cek karakter, maka biasanya disertakan juga software khusus untuk menghitung Cek karakter tersebut.

QR Code

QR (Quick Response) Code adalah tipe Barcode 2 dimensi dimana data tersimpan dalam arah sumbu horisontal dan vertikal. QR Code dapat memuat tidak saja data alphanumeric tetapi juga data binary, maksimum data yang dapat dimuat 2935 byte data. Karena itu QR Code dapat menyimpan tidak hanya teks tetapi juga data gambar, pesan SMS, halaman Web dll.

QR Code dibuat oleh perusahaan Denso-Wave dari Jepang, mulanya digunakan untuk manajemen sparepart, kini banyak digunakan sebagai alat marketing dimana ketika dipindai akan membawa kita ke situs Web mereka.

Tidak seperti Barcode 1D, Barcode QR Code dipindai dengan menggunakan Kamera Web dari Komputer atau Smartphone yang telah dilengkapi dengan software pembaca QR Code. Software akan menterjemahkan gambar yang didapat dan kemudian akan membuka Browser untuk mengunjungi situs Web yang tertulis dalam Barcode.

 

Innotronics Center, 2013